Latest News

More

Posted on : Friday, November 4, 2011 [0] comments Label: ,

70 PAUD Jadi Percontohan

by : Ki Juru Ketik

Solo, CSOiEFA. Sejumlah 70 lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang tersebar di Indonesia ditetapkan menjadi percontohan. Pembinaan lembaga ini secara langsung berada di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI).
"Banyak lembaga yang mengajukan menjadi PAUD percontohan. Pada tahun ini saja ada 86 lembaga. Namun hingga sekarang yang baru memperoleh status percontohan ada 70," kata Kasubdit Pembelajaran dan Peserta Didik Dirjend PAUDNI, Dra Enah Suminah MPd, saat dijumpai di sela-sela acara workshop dan sosialisasi PAUD percontohan di Taman Pendidikan Prasekolah (TPP) Al Firdaus Solo, Sabtu (22/10).
Masing-masing PAUD yang mengajukan diri menjadi percontohan harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dua poin utamanya adalah manajemen administrasi yang baik dan pembelajaran kualitatif.
Dari segi administrasi dijabarkan menjadi aspek izin operasional, rekening sekolah, memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Untuk pembelajarannya minimal memiliki dua program. Bisa berupa kelompok belajar (playgroup) dan TK atau TPA dan TK.
Bagi lembaga yag telah ditunjuk menjadi percontohan akan memperoleh berbagai bantuan dari pusat. Di antaranya berupa pembinaan secara langsung. Ini berbeda dengan PAUD percontohan yang ada di tingkat kecamatan, yang dibina oleh provinsi.
Selain itu, PAUD percontohan tingkat kota/kabupaten juga memperoleh pengarahan berupa program-program pendidikan, penguatan kurikulum, dan bimbingan teknis.
Dari segi materi, mereka juga memperoleh bantuan sarana-prasarana, rehab bangunan sekolah, dan pembangunan kelas baru. Selain itu ada juga bantuan operasional pendidikan (BOP). Besarnya, Rp 300 ribu per anak. "Kalau yang disetujuinya baru saja, maka mendapatkan anggaran dari APBN perubahan. Tapi nilainya Rp 150 ribu per anak," katanya.
( Hanung Soekendro / CN31 / JBSM )
Sumber: Suara Merdeka
Posted on : Tuesday, November 1, 2011 [0] comments Label: ,

Kemampuan Mendongeng Bukan Bawaan Lahir

by : Ki Juru Ketik


AWAM Prakoso yang akrab di sapa Kak Awam mengunjungi Makassar selama beberapa hari. Banyak kegiatan yang diikuti termasuk meresmikan Kampung Dongeng Sulsel, komunitas yang ia dirikan di Jakarta 2009 lalu. 

Sabtu siang 15 Oktober, ia juga membagi ilmu mendongeng pada calon guru di Universitas Negeri Makassar.

Kak Awam disambut antusias mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan.     

Kak Awam tak henti menebarkan tawa dan keriangan di ruangan. Gayanya santai, hanya menggunakan kaus polos dan celana kain, lengkap dengan topi pet khas seniman serta kacamata. 

Di panggung seukuran satu kali satu meter berlatar hitam, ia membeberkan rahasianya dalam berdongeng. Dia punya kemampuan menirukan suara berbagai benda dan binatang, mulai dari erangan gajah, kokok ayam, hingga deru baling-baling helikopter. 

Suaranya membuat suasana workshop berjalan cair. "Tepuk satu," katanya sesekali diikuti gerakan menepuk dan sorakan peserta. Sesuai dengan aba-aba yang diinstruksikannya di awal materi.

"Dunia dongeng, dunia yang menakjubkan bagi siapa saja," katanya melalui mik yang terhubung dengan pengeras suara. Ia menanamkan pesan itu pada mahasiswa yang hadir. Menurutnya, siapa saja bisa jadi menyukai dongeng. Karena, kata Awam, dongeng adalah kegiatan bercerita. Sedangkan naluri alamiah manusia cenderung tertarik dengan cerita.

Kak Awam terus menyisipkan candaan di tengah materi yang ia bawakan. Sontak, para peserta yang kebanyakan wanita terbawa suasana dan terus fokus mengikuti workshop kemarin. "Kalau guru PAUD tidak tahu bercerita, itu sama saja manusia tanpa kepala," serunya disambut tawa seisi ruangan. 

Pada workshop kemarin, dia menyinggung tentang kendala mengapa banyak orang tua maupun guru saat ini enggan atau tidak mampu berdongeng. Penyebabnya di antaranya kurangnya penguasaan materi cerita dan kesibukan. Nyaris tak ada waktu bagi orang tua untuk mendongengkan anaknya.

Memang, perlu teknis khusus mengeksplorasi benda-benda di sekitar. Apalagi, ide cerita selalu berasal dari lingkungan sekitar. "Yang jelas, kemampuan mendongeng itu bukan bawaan lahir. Hanya butuh latihan khusus dan kebiasaan," katanya.

Parwoto, salah satu dosen UNM saat membuka acara Workshop Dongeng berharap, para peserta dapat membangun kebiasaan mendongeng pada anak didiknya. "Penting untuk membangun imajinasi anak sejak dini," katanya.  (*)

Sumber:  Fajar Online
Posted on : [0] comments Label: ,

Tanamkan Cinta Kebangsaan Sejak Dini!

by : Ki Juru Ketik

BANDARLAMPUNG | CSOiEFA - Penggiat pendidikan dari Komunitas Dongeng Dakocan, Ivan Sumantri Bonang, menyatakan, rasa kebangsaan dan cinta Tanah Air harus ditanamkan pada anak sejak usia dini, untuk dapat membentuk sebuah bangsa yang berkarakter kuat di masa mendatang.
“Penanaman rasa kebangsaan dan cinta Tanah Air yang paling efektif adalah saat mereka berumur empat hingga enam tahun, karena itu adalah masa keemasan yang merekam penuh seluruh pengajaran dan pengetahuan yang diberikan kepada mereka,” ka
ta dia, di Bandarlampung, Minggu (30/10/2011).
Menurut dia, agar penanaman itu efektif, perlu diterapkan metode tertentu dalam penyampaian sehingga dapat diserap si anak sehingga terekam dengan baik hingga dia dewasa.
“Kalau pada anak usia dini, hanya ada tiga metode, yaitu permainan sederhana, mendongeng, serta melalui gerak dan lagu,” kata dia.
Menurut dia, dalam masa keemasan anak, tiga metode tersebut sangat efektif untuk mengubah pengetahuan yang didapat anak menjadi sintesa sehingga rasa kebangsaan dan cinta tanah air dapat terserap dengan baik.
Sumber: Surya Online